BerandaArtikel

Minggu, 07 April 2013 - 12:12:55 WIB
Kearifan Lokal : "Tradisi Hajat Lembur" dalam Perspektif Dinamika Cara Pandang Orang Sunda Terhadap Lingkungannya
Diposting oleh : admin :: Dibaca: 1496 kali
 
 
Kearifan Lokal : ‘Tradisi Hajat Lembur’ dalam Perspektif Dinamika
Cara Pandang Orang Sunda Terhadap Lingkungannya
Oleh : Sumirta

Pendahuluan
Istilah hajat lembur merupakan istilah umum yang dikenal masyarakat Kabupaten Sumedang. Istilah lain yang hampir semakna dengan hajat lembur di Kabupaten Sumedang dikenal dengan sebutan hajat uar, hajat ngarumat jagat, hajat ngaruat lembur, hajat bumi dan hajat buku taun. Mengenai sejarahnya, hingga saat ini belum ditemukan adanya bukti-bukti otentik tentang sejak kapan, dimana, serta siapa yang memulainya. Namun yang jelas berdasarkan hasil kajian penulis bahwa secara umum keberadaan hajat lembur di Kabupaten Sumedang tidak terlepas dari sejarah perkembangan Sumedang dari masa kemasa. Tradisi ini dalam perkembanganya telah mengalami perubahan-perubahan seiring dengan berjalannya waktu dan dinamika sosial budaya masyarakat yang senatiasa berkembang. Adanya tradisi-tradisi yang seperti ‘hajat lembur’ juga sangat terkait dengan cara pandang orang Sunda terhadap lingkungannya, dimana orang Sunda dalam kehidupannya menganggap dirinya bukan suatu agen bebas di dalam kosmos, namun merupakan bagian fungsi dari suatu keseluruhan yang besar (Iskandar, 2011). Namun dalam perkembangannya sejalan dengan perkembangan zaman sistem hubungan antara manusia Sunda dengan lingkungannya telah mengalami perubahan yang disebabkan beberapa faktor misalnya antara lain pengaruh pendidikan agama dan pendidikan formal serta pengaruh kebijakan pemerintah. Selain itu upacara tradisi seperti ‘hajat lembur’ juga merupakan warisan budaya dan sumber daya (Daulay, Z. 2011). Dalam  perspektif sebagai warisan budaya menurutnya ketika merujuk kepada dokumen UNESCO adalah dapat dilihat dengan ciri-ciri (i) ditularkan antar generasi; (ii) berkembang secara dinamis; (iii) menyatu dengan identitas komunitas; dan (iv) merupakan sumber kreatifitas. Sedangkan dalam perspektif sumber daya menurutnya dapat merujuk kepada CBD (The Convention on Biological Diversity) yang bertujuan untuk mencapai tiga tujuan utama, yakni (konservasi keanekaragaman hayati; (ii) memajukan penggunaan keanekaragaman hayati, dan (iii) meyakinkan keuntungan komersial penggunaan sumber-sumber genetik yang dibagi dengan cara-cara yang patut dan adil.

Tradisi Hajat Lembur, Dinamika Cara Pandang dan Perspektif Lingkungan
‘Tradisi hajat lembur’ pada prinsipnya adalah merupakan wujud ekspresi wujud syukur masyarakat terhadap ‘Sang Maha Pemberi Kehidupan’. Hal ini bias di lihat dari nilai-nilai, makna-makna simbolis serta filosofi–filosofi yang terkandung di dalam prosesi tradisi ini, yang pada dasarnya bukanlah semata-mata hanya acara ritual belaka, akan tetapi lebih jauh dari itu merupakan adanya keterkaitan antara system kepercayaan (cosmos), system pengetahuan (corvus) dan praktik-praktik masyarakat (praxis) dalam memaknai dan menghargai arti lingkungan bagi kelangsungan hidupnya.
 
Anshoriy dan Sudarsono (2008) mengatakan bahwa “kosmos”  berarti dunia, aturan atau alam, dan “logos” berarti rasio atau akal. Dengan demikian kosmologi merupakan telaah mengenai alam semesta dalam sekala besar. Terkait dengan pengertian ini, maka alam semesta diselidiki menurut inti dan hakekat yang mutlak, yaitu menurut keluasan dan maknanya dengan titik tolaknya adalah kesatuan manusia dan alam semesta serta dunia yang dialami manusia (Laksono, 1997 dalam Anshory dan Sudarsono, 2008).
 
Tatanan alam adalah merupakan kreasi agung yang sarat dengan nilai-nilai sakral dan pesan-pesan spiritual; nilai intrinsik alam adalah juga merupakan sumber kebahagiaan dan kesempurnaan manusia yang tidak semata-mata bergantung pada kecukupan material. Dengan demikian kehancuran suatu ekosistem (lingkungan) tidak perlu terjadi ketika manusia memandang alam dari sisi yang lebih tinggi dari sekedar nilai materil yang substansial serta menghargainya bukan sekedar manfaat instrumental bagi kepentingan manusia (Sunardi, 2008). Dari sudut pandang ini, maka terlihat bahwa keberadaan alam akan sangat terkait dengan masalah-masalah asasi yang ada pada diri manusia, yakni menyangkut fungsi dan peranan manusia di muka bumi baik secara vertikal (pencipta) maupun horisontal (yang diciptakan) (Anshary, 1982).
 
Disisi lain kehidupan sehari-hari manusia sentiasa berinteraksi secara timbal balik dengan ekosistem (lingkungan) lokalnya. Manusia dalam interaksi dengan ekosistemnya, seperti memanfaatkan dan mengelola jenis-jenis hayati, serta sumberdaya alam lainnya, dipengaruhi oleh berbagai faktor sistem sosial, serta faktor sistem ekologi (ekosistem). Sistem sosial manusia, seperti pengetahuan lokal, bahasa, teknologi, ekonomi, nilai dan kepercayaan mempunyai peranan penting dalam berinteraksi antara manusia dengan ekosistem. Lovelace (1984) mengatakan bahwa menurut sudut pandang ekologi manusia, hubungan timbal balik manusia dengan lingkungannya adalah terjadinya proses hubungan yang sangat kompleks antara sistem sosial manusia dengan ekosistem. Sistem sosial manusia adalah berbagai komponen yang dimiliki manusia, seperti populasi, teknologi, pengetahuan, kepercayaan, tata nilai, sosial sturuktur dan institusi atau kelembagaan. Sementara itu, ekosistem dapat diartikan sebagai suatu sistem ekologi yang terdiri dari unsur-unsur biotik (tumbuhan, hewan, dan mikro-organisme) dan abiotik (tanah, air, udara, temperatur) yang saling berinteraksi timbal balik di antara komponen-komponen yang menyusunnya di sutu tempat.
 
Interaksi timbal balik antara sistem sosial manusia dan ekosistem dapat berjalan dengan baik, karena adanya arus materi, energi dan informasi. Misalnya, manusia dalam kebutuhan sehari-hari membutuhkan energi yang berkelanjutan dari ekosistem, berupa energi dari sumber karbohidrat, padi, jagung dan umbi-umbian untuk bahan pangan, serta energi bahan bakar berupa kayu bakar untuk keperluan memasak. Materi dapat berupa organik maupun anoraganik. Di dalam ekologi arus materi di alam dapat berupa daur atau siklus, seperti siklus, nitrogen, karbon, nitrogen, dan air, sedangkan informasi dapat diartikan sebagai segala sesuatu, seperti benda fisik, warna, suhu, perilaku, dan lain-lain yang memberikan pengetahuan.
 
Toledo (2002) mengatakan bahwa pada masa silam, sebelum sistem ekonomi pasar masuk deras ke berbagai pelosok pedesaan di Indonesia, pada umumnya hubungan timbal balik penduduk desa dengan sumber daya alam hayati dan lingkungannya,  bersifat sistem kompleks corpus-cosmos-praxis. Artinya bahwa berbagai kegiatan praktik penduduk pribumi (praxis) dalam mengelola dan memanfaatkan aneka ragam varietas, jenis hayati dan ekosistem dilandasi kuat oleh sistem pengetahuan/kognitif (corvus) dan kepercayaan (cosmos) penduduk. Jadi, sejatinya meski tingkat pendidikan formal berbagai komunitas penduduk pribumi di Indonesia umumnya rendah, tetapi dari segi pengalaman dan kearifan ekologi yang berlandaskan pada pengetahuan dan budaya lokal, mereka itu cukup ‘terdidik’. Penduduk desa pada umumnya telah mampu memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam hayati dan lingkungannya secara berkelanjutan. Ilustrasi hubungan praxis-corvus-cosmos (misalnya dalam kajian penulis sangat terkait dengan hutan rakyat) gambarannya sebagai berikut :
 
   
 
Gambar. Hubungan antara  praxis-corvus-cosmos terkait dengan hutan rakyat    
 
Gambar di atas mendeskripsikan bahwa keberadaan hutan rakyat tidak terlepas dari adanya hubungan praxis-corvus-cosmos, artinya bahwa untuk memahami eksistensi hutan rakyat bukanlah semata-mata dilihat hanya dari aspek fisik belaka, akan tetapi lebih jauh dari itu ada keterkaitan yang sangat kompleks dan rumit dalam suatu sistem yang lebih besar yang terjadi pada hutan rakyat.  Hal yang sangat jelas misalnya terlihat pada ikatan yang erat antara budaya masyarakat pribumi dengan berbagai ekologi lanskapnya, sehingga pada masing-masing daerah dijumpai  adanya aneka ragam lagu lokal, cerita lokal, lagenda dan nama-nama lokal tentang bentuk-bentuk alam (toponim), seperti bukit, gunung, sungai dan lainnya yang menunjukkan hubungan erat antara kebudayaan lokal dengan sejarah dan dinamika perubahan berbagai ekolologi lanskap lokal. Terciptanya lagu misalnya ”Kembang Gadung, Buah Kawung, dan Kembang Beureum, tidak terlepas dari sebuah inspirasi perenungan mendalam serta mempersonifikasikan sifat-sifat yang ada pada jenis-jenis tanaman tertentu untuk dijadikan sebuah ’Maha Karya’ yang mengandung makna-makna filosofis tinggi. Ungkapan-ungkapan falsafah hidup misalnya ”Kembang beureum buah hideung, nyaliara pikir kuring rek balik balik kamana panto pageuh ditulakan”, merupakan hal penting untuk dikaji maknanya bagi generasi sekarang bukan sebatas hanya untuk ”Diteundeun di handeuleum sieum”, akan tetapi harus ”diguar dihanjuang siang”.
 
Dengan demikian maka, untuk melindungi dan mempertahankan lingkungan  tidak cukup hanya dengan melindungi aspek fisik semata, tetapi juga harus memperhatikan penduduk pribumi dengan aneka ragam budayanya, seperti pengetahuan ekologi tradisional atau pun teknologi tradisional mereka. Artinya bahwa dengan melindungi aneka ragam budaya lokal, secara langsung atau pun tidak langsung dapat menyelamatan keanekaan hayati. Hal ini bisa dilihat paling tidak hasil kajian penulis minimal ada 44 jenis tanaman yang terkait langsung dan wajib ada dalam acara ritual hajat lembur ini. Artinya bahwa dengan melindungi dan ”ngamumule” budaya lokal (hajat lembur) pada dasarnya baik secara langsung maupun tidak langsung  minimal 44 keanekaragaman hayati jenis tanaman dapat dilindungi (di konservasi).
 
Dalam perkembangannya berbagai pengetahuan dan budaya masyarakat lokal, kini cenderung masih kurang diberdayakan dalam berbagai program pembangunan di Indonesia (termasuk Sumedang), bahkan cenderung diabaikan dan dirusak sehingga telah menyebabkan erosi berbagai pengetahuan lokal dan kerusakan lingkungan atau ekosistem di Indonesia. Misalnya, dengan kian derasnya penetrasi ekonomi pasar dan eksplotasi sumberdaya alam perdesaan oleh para pemodal besar dari luar, terjadilah berbagai kerusakan ekosistem, dan berubahnya pengetahuan lokal, serta pola ekploitasi sumberdaya alam oleh penduduk lokal. Akibatnya, timbul kemiskinan di perdesaan yang juga berdampak pada kemiskinan di perkotaan, yaitu dengan maraknya penduduk desa yang mencoba mengadu nasib ke kota dengan tidak dibekali pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk hidup di kota.
 
Di sisi lain manusia di dalam kehidupan sehari-harinya sangat ketergantungan kepada layanan yang diberikan alam. Misalnya, untuk kelangsungan hidupnya manusia dipengaruhi oleh ketersediaan oksigen untuk bernapas; ketersediaan air untuk minum, mandi dan mencuci; tanah untuk bertani; dan aneka ragam hayati untuk bahan pangan, bahan obat-obatan, bahan bangunan, kerajinan, bahan industri, pakan ternak, bahan hiasan, serta perlengkapan untuk upacara ritual (misal hajat lembur). Sementara itu, berbagai tindakan manusia terhadap ekosistem dapat menyebabkan perubahan atau kerusakan jenis-jenis keragaman hayati dan ekosistem, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kehidupan manusia sendiri. Misalnya, akibat gangguan manusia terhadap hutan rakyat, dapat menyebabkan berkurangnya jenis dan varietas tanaman lokal, timbulnya erosi tanah dan terganggunya fungsi hidrologi, seperti timbulnya banjir di musim hujan atau pun kekeringan di saat musim kemarau.
 
Pengetahuan ekologi tradisional seperti halnya ‘hajat lembur’ pada dasarnya tidak tertulis, melainkan dikembangkan secara oral dengan menggunakan bahasa ibu, bersifat lokal dan sangat rentan kepunahan. Maka, akibatnya seringkali terjadi pengikisan pengetahuan ekologi tradisional sebagai akibat dari mulai terkikisnya  bahasa ibu dan berubahnya sistem sosial ekonomi budaya dari berbagai kelompok penduduk pribumi atau penduduk lokal. Hal tersebut  menurut Iskandar (2011) menyebabkan perubahan drastis terhadap pola pemanfaatan dan pengelolaan keanekaan hayati dari sistem pengelolaan yang bijaksana dengan berlandaskan pengetahuan ekologi tradisional dan lekat budaya, berubah menjadi bersifat eksploitatif dengan dilandasi kepentingan ekonomi pasar. Konsekuensinya, maka timbul berbagai kerusakan ekosistem dan kehancuran atau kepunahan keanekaan hayati  di negri ini.
 
Dari uraian di atas dapat di lihat bahwa masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan harus dicarikan solusinya melalui berbagai sudut pandang. Misalnya dengan melalui pendekatan kearifan tradisional sebagai contoh adalah dengan “ngamumule tradisi hajat lembur” yang masih hidup di sebagian daerah di Kabupaten Sumedang. Namun demikian tradisi-tradisi seperti ini sering dihadapkan kepada kemajuan budaya manusia yang terkadang juga menyertakan persoalan-persoalan yang sangat kompleks menyangkut persoalan pemenuhan kebutuhan manusia serta menyangkut hubungan antar manusia. Dalam batas-batas tertentu nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut dapat di adopsi dan dikembangkan bahkan diintegrasikan dengan disiplin-disiplin lainnya. Hal ini sejatinya merupakan fakta bahwa persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan dari aspek tertentu saja, namun diperlukan pendekatan-pendekatan yang lebih holistik dan terintegrasi baik dari sisi ekologi, ekonomi maupun social budaya.

Penutup
Dengan demikian, maka pemahaman akan nilai-nilai kultural dari suatu aktivitas produksi hingga peran berbagai jenis pohon atau tanaman lainnya di lingkungan masyarakat lokal (hajat lembur red) seiring dengan adanya dinamika perubahan cara pandang masyarakat sangat penting untuk dipertimbangkan dalam rangka keberhasilan pemilihan desain dan kombinasi jenis pohon/tanaman yang akan dikembangkan di suatu tempat. Pemahaman bahwa ‘revitalisasi’ suatu ekosistem (misalnya hutan rakyat) yang bertujuan untuk mengurangi degredasi hutan dan lingkungan hidup serta memecahkan problema sosial ekonomi masyarakat mungkin di satu sisi memang ada benarnya, namun demikian pemahaman tersebut kesannya adalah baru hanya menempatkan manusia sebagai ‘objek uji coba pihak luar’, padahal menurut Widianto, dkk (2006), bahwa hutan rakyat sebagai suatu ekosistem dalam interaksinya dengan sistem sosial budaya pada hakikatnya adalah lebih memposisikan manusia (masyarakat) sebagai pelaku (subjek), dimana dengan akal, budi dan rasa (daya dan kemampuan) yang dimilikinya secara dinamis akan berusaha untuk memecahkan permasalahan kebutuhannya untuk menghadapi tantangan serta memanfaatkan peluang dalam menempuh kehidupannya.
Wallahua’lam bi showab

Referensi :
Anshari, E.S. 1982. Ilmu, Filsafat dan Agama. PT Bina Ilmu Surabaya. Surabaya.
Anshoriy, N dan Sudarsono. 2008. Kearifan Lingkungan dalam Perspektif Budaya Jawa.
     Yayasan Obor Jakarta. Jakarta.
Daullay, Z. 2011. Pengetahuan Tradisional Konsep, Dasar Hukum, dan Praktiknya.
     PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Iskandar, J. 2011. Perspektif Etnobiologi dalam Keanekaan Hayatidan Layanan Ekosistem.
     Makalah Seminar Nasional Keanekaan Hayatidan Layanan Ekosistem.
     Jurusan Biologi Unpad. Bandung.
Lovelace, G.W. 1984. Cultural Beliefs and the Mangement of Agroecosystems.
     Dalam Rambo, A.T., P.E. Sajise (eds), An Introduction to Human Ecology Research on Agricultural
     Systems in Southeast Asia. Hawaii: East-WestCenter. Pp. 194-205.
Sunardi. 2008. Perlindungan Lingkungan: Sebuah Perspektif dan Spiritual Islam. PSMIL-UNPAD. Bandung.
Toledo, V.M. 2002. Ethnoecology : A Conceptual Framework for the Study of Indiginous
     Knowledge of Nature. Dalam J.R. Stepp, F.S. Wyndham, and R.K. Zarger (eds),
     Ethnobiology and Biocultural. Georgia: The International Society of Ethnobiology.
 

,