BerandaInfo Unit Kerja


Selasa, 31 Juli 2012 - 15:11:10 WIB
PEMBANGUNAN MEGAPROYEK JADIGEDE
Diposting oleh : admin :: Dibaca: 977 kali

PEMBANGUNAN MEGAPROYEK JADIGEDE

Pembangunan Proyek Waduk Jatigede merupakan salah satu megaproyek infrastruktur yang sedang dibangun di Kabupaten Sumedang selain jalan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu). Waduk Jatigede merupakan proyek yang terlama di dunia setelah tertunda selama hampir 44 tahun dari perencanaannya pada tahun 1963. Merujuk pada masterplan yang ada, lokasi proyek pembangunan Waduk Jatigede merupakan bagian wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung mencakup daerah aliran sungai Kab. Garut, Sumedang, Majalengka, Cirebon, Indramayu, Kuningan serta Brebes Jawa Tengah. Rencana letak Dam Proyek Pembangunan Waduk Jatigede terletak di Kampung Jatigede Kulon Desa Cijeungjing Kecamatan Jatigede Kabupaten Sumedang. Adapun lahan yang dibutuhkan seluas 4.891,13 ha yang meliputi 5 (lima) Kecamatan atau 26 (dua puluh enam) Desa. “Pembangunan proyek ini akan menenggelamkan 5 Kecamatan dan 30 Desa, menggusur sebanyak 70.000 jiwa penduduknya, menenggelamkan areal seluas 6.783 ha dengan 1200 ha hutan milik Perhutani dan puluhan situs sejarah ikut tersapu,” demikian disamapaikan Kepala Bappeda Kabupaten Sumedang Ir. H. Eka Setiawan, Dipl.SE.,MM, Rabu (27/06), di Aula Rapat Bappeda, dalam Rapat Koordinasi Kemajuan Pembangunan Waduk Jatigede tahun 2012 yang dilaksanakan oleh Bidang Fisik Bappeda yang dihadiri oleh Dinas PSDA Provinsi Jawa Barat, Samsat Jatigede, Satker Pembangunan Waduk Jatigede.

Menurut Kepala Bappeda, alokasi dana pembangunan yang mencapai hampir 2,8 trilyun maka megaproyek ini merupakan salah satu proyek infrastruktur terbesar yang pernah dibangun di Kabupaten Sumedang. Waktu pekerjaan Proyek Waduk jatigede diestimasikan selama 6 tahun dengan periodasi dari 15 Nopember 2007 sampai dengan 17 April 2013. Pembangunan megaproyek ini diproyeksikan bisa memberikan multiple effect yang signifikan bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat di Kabupaten Sumedang khususnya dan Kabupaten–Kabupaten yang terkoneksi dengan pembangunan proyek ini seperti Indramayu dan Majalengka. Hal ini sejalan dengan tujuan dibangunnya bendungan ini, yaitu anatara lain :
  1. Daya dukung bagi program Penyediaan Pangan Nasional berupa tersedianya Daerah Irigasi seluas hampir  90.000 Ha.
  2. Pendudukung infsrastruktur energi yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Listrik Sistem Jawa bali yang diproyeksikan bias menghasilkan daya listrik sebesar 110 MW.
  3. Berfungsi sebagai Pengendali Banjir dengan lahan 14.000 Ha Pengatur Debit Banjir.
  4. Penyediaan Suplai Air Baku bagi kawasan Pantura dan diproyeksikan menghasilkan debit sebesar  3500 liter/detik.
  5. Mendukung peningkatan kualitas perekonomian bagi masyarakat yang tinggal disekitar kawasan waduk  berupa Pariwisata kawasan waduk.
  6. Sebagai kawasan Budidaya Perikanan tangkapan.

Berdasarkan ekspose yang dilakukan oleh KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL SUMBER DAYA AIR pembangunan Waduk Jatigede sampai tanggal dengan 25 Juni 2012 progres kemajuan sudah mencapai 73,695 % dari rencana total semua pekerjaaan. Dengan perincian pekerjaan sebagai berikut :
  1. Preparatory and General Works    : 8,601 %
  2. Diversion Tunnel Works               : 16,926 %
  3. Main Dam Works                         : 29,177 %  
  4. Spillway Works                            : 12,738 %
  5. Plunge Pool Works                      : 3,376 %
  6. Others                                        : 2,877 %

Sedangkan untuk proses pembebasan lahan menyisakan seluas 2,56 Ha lahan yang belum dibebaskan. Data ini merupakan data per tahun 2012. Sebagaimana pembangunan megaproyek yang memiliki design konstruksi yang rumit dan sangat besar sekaligus juga membutuhkan lahan yang luas, proyek pembangunan Waduk Jatigede mengalami beberapa kendala terkait proses pembangunan konstruksi dan pembebasan lahan.

Dalam konteks pembangunan konstruksi hambatan yang dialami antar lain :
  • Curah hujan selama tahun 2010 yang tinggi menyebabkan keterlambatan dalam pengerjaan penggalian, penimbunan dan pengecoran beton selain itu juga timbulnya longsor.
  • Pondasi bangunan pelimpah belum memenuhi syarat sehingga perlu diperdalan 10 M kondisi ini berpengaruh terhadap volume galian dan volume beton yang bertambah juga terlambatnya pengecoran beton struktur.
  • Kondisi tebing galian yang tidak stabil menyebabkan perlu pekerjaan perkuatan tebing galian berupa shotcrete dan pekerjaan penggalian menjadi lambat.
  • Jalan masuk sering rusak bahkan longsor menyebabkan mobilisasi alat dan material sering terlambat dan perlu dilakukan pekerjaan ekstra penanganan longsor.

Sedangkan untuk konteks pembebasan lahan salah satu faktor yang menghambat kelancaran proses pembebahasan lahan adalah terkait dengan pembahasan tindakan untuk fenomena rumah hantu. Dari semua kendala diatas pelaksana pembangunan proyek sudah melakukan berbagai hal terkait solusi dan antisipasi kendala–kendala diatas. Berdasarkan hal tersebut pihak pelaksana pembangunan masih yakin bahwa proses pembangunan dan operasional awal waduk masih sesuai jadwal yaitu bulan Desember 2013 untuk penyelesaian pekerjaan fisik konstruksi dan bulan oktober 2013 untuk proses pengairan awal waduk. ***


Buat Komentar
    Masukan nama :
    Masukan E-Mail :
    Masukan Komentar :
    Captcha Kode :
    Masukan Kode :

    Daftar Komentar

    Belum ada komentar yang masuk
,